Pendakian Terdalam

think, act, and contribute

Sektor Energi Indonesia ; Antara Egoisme dan Nalar

Sektor energi merupakan sektor kunci dalam peradaban manusia. Sejak beratus-ratus tahun yang lalu manusia membutuhkan dan menggunakan energi dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Energi matahari sebagai sumber energi utama pun sudah digunakan manusia ketika zaman primitive secara alami dengan kemampuan seadanya. Kegiatan sehari-hari manusia selalu bersentuhan dengan bagaimana ia dapat mengolah makanan, membuat peralatan-peralatan sederhana, dan sebagainya yang tentunya berhubungan erat dengan energi. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa energi. Seiring perjalan waktu manusia pun mampu menggunakan dan menemukan energi yang hingga saat ini digunakan dalam membantu proses kehidupan dan memajukan peradaban manusia. Penggunaan energi akan selalu berperan dalam mendorong proses kehidupan manusia melalui berbagai sektor kehidupan.

Berbicara masalah energi akan selalu dihadapkan pada sumber daya energi yang dihasilkan. Di dunia dikenal beberapa energi, yaitu energi yang berasal dari fosil, energi kimia, energi fisik, hingga energi atom dan nuklir. Energi dibagi menjadi dua, yaitu energi yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui. Beberapa contoh energi yang dapat diperbaharui adalah energi biomassa, energi panas bumi, energi angina, dan sebagainya. Sedangkan untuk energi yang tidak diperbaharui adalah energi fosil, yaitu minyak bumi, batubara, dan gas alam. Berbagai jenis energi tersebut tidak serta-merta dimanfaatkan secara bersamaan dan berkesinambungan. Hanya sebagian kecil jenis energi yang digunakan secara berkala dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama. Penggunaan jenis energi selalu mengalami fluktuasi dan kecenderungan tertentu. Energi memiliki tren penggunaan yang senantiasa berubah dari waktu-waktu dengan dinamikanya sendiri. Perubahan ini lebih diakibatkan oleh tingkat efisiensi dan keekonomisan dari energi tersebut yang menyesuaikan dengan kebutuhan manusia.

Energi merupakan sektor utama yang berperan dalam meningkatkan peradaban melalui proses memajukan perekonomian bangsa. Setiap 1% pertumbuhan energi akan mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Hal ini terjadi karena peran sektor ini sebagai penggerak awal untuk sektor-sektor lainnya. Rasionalisasinya adalah ketika sektor energi mengalami penurunan maka otomatis akan mengakibatkan sektor lainnya mengalami penundaan dalam berbagai prosesnya. Sebagai contoh adalah industri otomotif yang merupakan secondary industri tidak akan dapat berproduksi sebagaimana mestinya bila dalam proses produksinya tidak disokong dengan pemenuhan kebutuhan energi yang cukup tinggi. Atas dasar fakta tersebut maka sebagian besar negara-negara di dunia berusaha untuk dapat memajukan sektor energi dengan tujuan agar dapat menggerakkan roda perekonomian dan meningkatkan kesejahteraannya.

Pergerakan sektor energi dunia senantiasa dinamis, namun dominasi energi fosil masih memegang peran utama dalam menunjang kebutuhan energi dunia. Batubara dan minyak bumi yang tergolong bahan galian strategis merupakan sumber energi utama dunia dan diperkirakan masih akan stabil dalam kurun waktu 20-30 tahun ke depan. Batubara dan minyak bumi sangat mempengaruhi dinamika ekonomi dunia. Pengaruh yang sangat besar terbukti dalam torehan tinta sejarah saat terjadi peristiwa “oil shock” yang membuat dunia mengalami goncangan perekonomian pada tahun 1973 dan 1979. Pada saat itu terjadi perang antara Israel yang berkoalisi dengan Amerika Serikat melawan negara-negara arab yang notabenenya memiliki 67% dari total cadangan minyak dunia. Akibat dari perang tersebut adalah koalisi negara-negara arab melakukan embargo minyak terhadap Israel dan Amerika Serikat. Hal ini mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia dari 3$ per barrel menjadi 30$ per barrel, atau sepuluh kali lipat dari harga awal. Kenaikan harga minyak tersebut berdampak besar bagi dunia sehingga perekonomian mengalami goncangan yang luar biasa. Selain itu krisis global tahun 2008 yang lalu sempat melambungkan harga minyak dunia mencapai 125$ per barrel. Angka ini jauh sangat tinggi dibandingkan kenaikan-kenaikan harga minyak yang pernah ada sehingga mengakibatkan terjadinya kelangkaan energi di beberapa negara. Selain minyak bumi sumber energi batubara pun merupakan sumber energi yang berpengaruh besar. Revolusi industri merupakan titik tolak awal dari penggunaan energi batubara. Mesin uap yang ditemukan oleh James Watt dapat memicu terjadinya revolusi industri melalui penggunaan energi batubara. Revolusi industri telah meningkatkan perkembangan industri baja, besi, dan tambang batubara. Melalui efek tersebut energi batubara memicu perkembangan idustri-industri lainnya sehingga meningkatkan perekonomian. Bahkan Eropa pasca perang dunia II pun dapat bangkit melalui pemanfaatan energi batubara dan membentuk asosiasi negara penghasil batubara yang dikenal dengan nama “European Union”.

Sektor energi batubara Indonesia merupakan sektor yang berkembang sangat pesat dalam proses pengembangan sektor industri. Cadangan batubara Indonesia sebesar 3 % dari total cadangan dunia, atau setara dengan 18,71% Mt dengan total sumber daya sebesar 93,4 Mt.. Dari keseluruhan cadangan tersebut sebesar 60% digunakan untuk membangkitkan energi listrik, 30% untuk industri semen, dan 10 % untuk industri lainnya. Produksi batubara Indonesia senantiasa mengalami pertumbuhan tiap tahunnya sebesar 10-13 juta ton. Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor batubara terbesar dunia bersama dengan china, afrika selatan, amerika serikat, dan Australia. Fakta tersebut membuktikan bahwa sektor energi, khususnya Indonesia memiliki peran yang signifikan dalam menunjang pembangunan bangsa dan peradaban melalui penyediaan energi dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Pemenuhan kebutuhan energi dunia sudah selayaknya untuk dilakukan, terutama bagi negara-negara pengekspor energi dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Di satu sisi Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor batubara terbesar memiliki prestasi yang baik, namun di sisi lain hal ini sangat memprihatinkan bagi Indonesia. Sebanyak 70% dari total produksi batubara dalam negeri diekspor ke luar negeri, dan sisanya 30% untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, padahal negara mengalami kekurangan pasokan energi untuk pengembangan industri dalam negeri. Hal ini menyebabkan perkembangan sektor industri dalam negeri cukup lambat dan cenderung tidak mengalami akselerasi sehingga pertumbuhan ekonomi dirasa kurang optimal. Dari perhitungan cadangan energi dalam negeri saat ini, minyak bumi hanya mampu bertahan selama 30 tahun dan batubara selama 100 tahun mendatang dengan produksi sebesar 25 juta ton per tahun. Oleh karena itu jika dilihat lebih lanjut dengan perhitungan saat ini maka cadangan energi kita hanya bertahan hingga 1-2 generasi ke depan. Fakta ini cukup memprihatikan karena jika kita lihat saat ini dengan cadangan energi yang hanya tinggal 2 generasi ke depan, produksi batubara digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekspor tanpa mempertimbangkan kebutuhan energi dalam negeri yang cukup tinggi. Akibat yang terjadi adalah negara akan kehilangan penerimaan lebih besar jika dibandingkan dengan penerimaan hasil ekspor batubara yang notabenenya memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan pasar dalam negeri. Hal ini dikarenakan oleh produktifitas industri yang akan menurun seiring dengan tidak terpenuhinya pasokan energi ke tanah air.

Berbeda dengan Amerika, berdasarkan perhitungan eksplorasi amerika memiliki cadangan batubara yang besar, yaitu sebesar 25% dari total cadangan dunia. Angka ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan Indonesia yang hanya memiliki cadangan 3% dunia. Namun sangat aneh jika diihat, Amerika yang memiliki total cadangan besar masih memberlakukan impor batubara dan minyak bumi dari negara-negara penghasil lainnya. Mereka melakukan proteksi terhadap seluruh sektor dalam negerinya, terutama sektor energi. Alasan yang cukup rasional adalah mereka menyimpan sebagian besar cadangan energinya untuk memenuhi kebutuhan masa depan di saat cadangan energi dunia sudah menipis. Perbedaan yang terjadi adalah mereka mampu mengoptimalkan kebutuhan energi industri dalam negeri dengan tetap menjaga kesinambungan produksi energinya.

Jika ditilik lebih lanjut maka terdapat kesalahan prosedur dalam pemanfaatan sektor energi dalam negeri. Kesalahan prosedur tersebut mengakibatkan sebagian besar para produsen energi hanya mementingkan diri sendiri dengan melakukan penjualan hasil produksi energi ke luar negeri karena harga yang lebih tinggi. Pemanfaatan sektor energi Indonesia ibarat berada pada dua pilihan, yaitu mengedepankan ego sesaat untuk kesengan saat ini atau mempertahankan nalar demi kesinambungan perkembangan dan kemajuan bangsa. Oleh karena itu sudah selayaknya dilakukan peninjauan ulang terhadap kebijakan ekspor energi dengan mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri agar roda industri dalam negeri dapat berjalan dengan optimal. Manfaat yang bisa dipetik adalah terjadinya perkembangan sektor lanjutan melalui sektor energi sehingga dapat terjadi kesinambungan dan siklus yang positif antar seluruh industri dalam negeri karena sektor energi merupakan sektor kunci bagi kemajuan bangsa.

October 27, 2009 Posted by Danu Pramudita | kajian | | No Comments Yet

Persepsi dan Kebangkitan Bangsa

Pembangunan berlandaskan persepsi.

Masih terasa dalam pikiran kita bahwa deskripsi akan sejarah bangsa akan senantiasa menjadi realita yang membangkitkan ruh perjuangan dan nasionalisme. Ruh-ruh perjuangan tumbuh dan bangkit dalam sebuah pengejawantahan semangat untuk membuat negara ini senantiasa mengalami kemajuan dan menjadi bangsa yang terdepan dalam konteks kebangkitan bangsa. Kebangkitan bangsa merupakan proses percepatan pembangunan yang dilakukan dengan banyak metode. Metode percepatan pembangunan diimplementasikan dalam berbagai bentuk, mulai dari pembangunan fisik, sumber daya manusia, mental, hingga pembangunan persepsi bangsa. Bangsa kita sudah sering dicekoki dengan pembangunan yang sifatnya terlihat dan tidak mengakar, padahal lebih dari itu, faktor pembangunan alam bawah sadar seringkali dilupakan oleh elemen bangsa kita. Membangkitkan alam bawah sadar merupakan hal yang mutlak dan sudah seharusnya menjadi prioritas pertama dalam proses percepatan bangsa. Semangat, motivasi, dan daya juang merupakan hal terpenting dalam menentukan proses lanjutan sebagai kekuatan awal untuk mencapai tujuan akhir.

Pembangunan alam bawah sadar yang bersifat mengakar dapat dibangkitkan dengan membangun persepsi. Persepsi positif sangat dibutuhkan untuk menstimulus gairah dan semangat awal dalam proses yang terintegrasi untuk kebangkitan bangsa. Persepsi positif dapat dibangun dengan memunculkan fakta positif dan yang bersifat mendorong. Isu-isu kebangsaan penting untuk dimunculkan sebagai stimulus persepsi dalam pencapaian bangsa. Sebagai contoh yaitu beberapa waktu yang lalu bangsa Indonesia baru menghadapi sebuah momen penting dalam transisi kepemimpinan Indonesia. Sebuah bentuk pengejawantahan  politik dalam sebuah dinamika kebangsaan yang menjadi hal mutlak ketika berbicara tentang kepemimpinan. Momen tersebut dapat dibangun menjadi sebuah persepsi yang positif ataupun juga persepsi negatif.

Isu-isu kebangsaan ada yang bersifat membangkitkan kedua persepsi tersebut ataupun salah satunya yang positif. Terdapat isu-isu besar yang dapat digunakan dalam membangun persepsi positif yang dapat digunakan untuk kemajuan bangsa kedepan, yaitu prestasi bangsa. Prestasi bangsa dapat membawa pengaruh positif dalam pembangunan bangsa sehingga dapat membawa kebanggaan bangsa kita. Sebagai contohnya adalah banyak kalangan memperkirakan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan yang sangat diperhitungkan di dunia. Berbagai fakta dapat dilihat dari kemajuan dan prestasi yang dicapai Indonesia. Sudah menjadi tradisi bahwa anak-anak bangsa yang dikirimkan menjadi delegasi dalam olimpiade science internasional selalu menorehkan prestasi. Medali Emas Olimpiade Fisika Internasional dan Olimpiade Biologi Internasional berhasil dipertahankan pada juli 2009 di Meksiko, Tim Garuda Parahyangan mendapat juara I IEICE Communication Society Award, dan juara II LSI of the year for student dari Semiconductor Industry Newspaper pada 2008 yang lalu di Okinawa, Jepang. Prestasi yang diraih bukan hanya prestasi kompetisi, prestasi industri pun dimiliki dengan pembuatan panser oleh PT Pindad, BPPT, dan Dephan yang mampu menghemat pembelian 200 panser sebesar 750 milyar, padahal Indonesia memiliki minimal 4000 panser. Produksi panser ini direncanakan pemerintah untuk diekspor ke negara-negara di Asia.  Baru-baru ini dapat kita lihat juga para insinyur-insinyur Indonesia berhasil menciptakan roket tercepat di dunia tipe RX-420 Lapan dengan seluruh komponennya buatan Indonesia. Pembuatan roket ini membuat gentar Australia, Malaysia dan Singapura karena konon peluncuran roket ini dapat mengintai aktifitas illegal mereka di wilayah perbatasan kita sehingga diharapkan dengan peluncuran roket ini keamanan dan pertahanan negara dapat ditingkatkan. Beberapa contoh prestasi tersebut dapat membuat persepsi positif bagi setiap individu jika senantiasa dipublikasikan sehingga yang terjadi adalah dapat tercapainya kebangkitan bangsa melalui pembangunan pondasi awal yang dibutuhkan.

Media sebagai katalisator.

Sebagian media atau bahkan masyarakat banyak yang memproyeksikan kemajuan Indonesia dengan berkaca pada fakta kekurangan dan kelemahan. Lebih dari itu bahwa sebenarnya masa depan bangsa Indonesia juga sebaiknya dilihat dari kelebihan dan prestasi-prestasi yang telah diukir anak bangsa masa kini. Bukan berarti kita senang dan terlena dengan capaian saat ini, namun melalui fakta saat ini masyarakat dan pemerintah bisa membuat grand design masa depan dengan melihat capaian saat ini sehingga dapat melakukan tindak lanjut kedepannya. Kekurangan dan kelemahan dapat mengakibatkan timbulnya sikap rendah diri sehingga membuat kita hanya berkutat pada bagaimana cara memperbaiki kekurangan. Jika kita jeli, sesungguhnya banyak potensi dan kelebihan yang dimiliki oleh bangsa kita. Kelebihan ini dapat menjadi semangat untuk mengembangkan potensi yang kita miliki sehingga pergerakan dan pembangunan yang dilakukan dapat efektif dan efisien. Dengan kata lain bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, tapi membuka mata lebih lebar untuk melihat kelebihan yang ada. Kelebihan yang dapat membangun persepsi positif sangat dibutuhkan, dalam hal ini peran media sangat penting sebagai sebuah penyalur informasi kepada masyarakat, terutama untuk prestasi dan capaian-capaian yang telah dilakukan disamping isu-isu yang komersial dan hanya meningkatkan rating semata.

Media sebagai sebuah instrument yang independent sudah seharusnya menjadi katalisator pembangunan bangsa, dan bukan hanya sekedar penyampai fakta dan opini. Media berperan sebagai alat untuk menumbuhkan alam bawah sadar akan persepsi masyarakat karena media menyajikan berita dan fakta secara berulang-ulang. Selain itu berita-berita tersebut dapat diakses secara bebas dan terbuka oleh seluruh lapisan masyarakat. Seiring waktu dengan membentuk persepsi masyarkat, media akan ikut menentukan terbentuknya mental, yang tentunya akan berdampak pada terbentuknya perilaku masyarkat. Oleh karena itu merupakan sebuah manfaat yang besar jika media ikut berperan dalam membangun watak bangsa melalui tayangan yang membentuk persepsi positif terhadap bangsa dan negaranya. Keseluruhan elemen bangsa, termasuk media diharapkan dapat berfungsi secara sinergis untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia.

October 27, 2009 Posted by Danu Pramudita | motivasi | | No Comments Yet

Strategi Dasar Pemasaran

Perkembangan dunia bisnis selalu mengalami fluktuasi. Tingkat fluktuasi bisnis dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal dari bisnis itu sendiri. Faktor internal yang dapat diukur dari kreatifitas inovasi produk dan situasi eksternal yang tercermin dalam perkembangan pasar merupakan dua hal yang memenetrasi kematangan suatu bisnis. Selain itu, pembentukan bisnis yang memiliki bargaining power tinggi akan selalu ditunjang dengan sinkronisasi kedua hal tersebut. Aspek-aspek positif dari sinkronisasi keduanya akan terimplementasi dalam kualitas produk dan tingginya pendapatan dan laba yang diperoleh dari suatu bisnis. Jika dilihat lebih mendalam keduanya merupakan implikasi dari lahirnya bisnis yang besar dan sukses, namun tidak murni implikasi. Hal ini terjadi karena terdapat jurang antara kedua aspek tersebut, dan harus ada kekuatan yang menjembatani, yang apabila dapat dikelola dengan baik maka implikasi yang diharapkan dapat diperoleh dengan maksimal.

Marketing merupakan jembatan penentu bisnis yang akan memperlihatkan baik buruknya, dan sukses tidaknya suatu bisnis. Konsep marketing merupakan konsep yang akan menghasilkan profit dan advantage bagi perusahaan.  Tantangannya adalah bagaimana perusahaan mampu menghasilkan laba besar dengan menarik pelanggan sebanyak-banyaknya dan membuat citra positif yang bermanfaat bagi kelangsungan bisnisnya. Oleh karena itu teknik dan strategi jitu melakukan marketing menjadi sangat dibutuhkan dalam optimalisasi proses bisnis perusahaan.

Bisnis sama dengan kepercayaan, dan cara membangun kepercayaan salah satunya adalah dengan melakukan marketing yang beretika dan sesuai antara yang dikatakan dengan produknya. Kesesuaian ini mutlak diperlukan karena marketing merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan customer agar mendapatkan laba dengan strategi persaingan yang efektif dan efisien. Kualitas dan produk  yang ditawarkan harus sesuai dengan aslinya karena bila tidak maka kemungkinan besar kebutuhan customer tidak akan terpenuhi, dan yang terjadi adalah hilangnya kepercayaan customer yang akan berdampak pada penurunan bisnis. Marketing akan terimplementasi oleh proses penyaluran dan penjualan dengan strategi tertentu, yatiu sales. Kesesuaian yang diharapkan terletak  pada aspek sales tersebut, karena ia merupakan manifestasi dari sebuah konsep marketing.

Terdapat dua cara teknik melakukan marketing, yaitu marketing bisnis to bisnis dan marketing retail. Marketing bisnis to bisnis merupakan cara dimana prosesnya dilakukan dengan mencari pasar melalui bisnis jenis lainnya, sedangkan retail adalah marketing dengan cara langsung memasarkan produk ke masyarakat tanpa melalui perantara. Dalam hal ini, proses yang biasa dilakukan adalah penawaran inovasi dan kualitas produk, serta harga yang kompetitif. Tiga hal yang menjadi inti dari marketing, yaitu:

  1. Harga, dalam hal ini penentuan harga memerlukan pertimbangan yang menyeluruh dan didasarkan oleh kemampuan beli masyarakat, segmen yang dituju, dan permainan harga yang mempengaruhi aspek psikologis seseorang, dengan menaikkan ekspektasi masyarakat terhadap produknya.
  2. Promosi, bentuknya harus memenuhi cakupan bisnis yang terimplementasikan dalam penerapan strategi marketing, Hal ini berguna untuk menentukan langkah dalam mengantisipasi dan menanggapi situasi pasar berkaitan dengan keberadaan saingan di usaha yang dijalani.
  3. Distribusi, yaitu proses penyaluran pemasaran dan produk akan menjadi aspek pendukung yang menunjang kegiatan marketing. Strategi marketing dapat terpenuhi jika distribusi dilakukan dengan lancar. Hal ini terkait dengan ekspansi yang dilakukan agar bisa menyentuh sasaran dengan mempertimbangkan segala kemungkinan.  Pendistribusian dilakukan melalui pemasaran dengan menyentuh pasar lokal terlebih dahulu sebelum masuk ke pasar yang lebih luas, namun harus disesuaikan juga dengan segmentasi pasar yang ingin diraih.

Dalam proses bisnis dikenal dua hal yang menjadi patokan dalam menentukan konsep marketing, yaitu konsep pemasaran atas dasar kebutuhan pelanggan, dan pemasaran atas dasar kebanggaan atau prestise pelanggan. Pada dasarnya marketing adalah cara untuk mengambil uang yang dimiliki orang tanpa keterpaksaan sedikit pun dari orang tersebut. Konsep penerapan marketing harus memiliki rasionalisasi yang kuat, yaitu  dalam penentuan segmen yang ingin dicapai, bentuk marketing, dan strategi yang diterapkan. Namun proses marketing tidak harus rasional. Marketing bisa diciptakan dan tumbuh dengan sendirinya bila ditunjang dengan diferensiasi dan propaganda yang menyentuh kalangan yang menjadi target.

Segmen yang dituju merupakan kata kunci dalam proses marketing. Segmentasi harus disesuaikan dengan visi misi dan kemampuan perusahaan ataupun produsen dalam memberikan pelayanan produk. Dalam marketing sangat tidak dianjurkan untuk mengubah segmentasi pasar karena hal ini akan mempengaruhi persepsi konsumen dan tingkat prestise untuk sebagian pelanggan. Pada umumnya segmen pasar yang ditujukan untuk kalangan menengah ke atas selain berdasarkan atas kebutuhan juga akan bermain dengan kebangaan. Oleh karena itu jika terjadi perubahan segmentasi untuk sebagian perusahaan yang menetapkan pasar tersebut akan berdampak besar bagi kelangsungan kontinuitas penerimaan produk di pasaran. Sebagai contoh adalah perusahaan mobil terkemuka BMW yang menetapkan segmentasi kelas menengah atas sebagai pasarnya, dan perusahaan mobil ferarri yang tidak pernah memiliki iklan aktif di media-media umum. Ferarri  melakukan proses marketing hanya melalui ajang balap mobil paling bergengsi di dunia. Hal ini dapat dilihat bahwa dengan menetapkan segmen kelas atas maka konsekuensi logis adalah menjaga proses marketing dan persepsi produk yang ditawarkan agar tetap eksklusif dan memiliki nilai prestise tinggi. Sedangkan untuk penentuan segmen kelas menengah ke bawah yang harus dijaga adalah bagaimana mempertahankan kebutuhan masyarakat akan produk yang ditawarkan dengan keunggulan-keunggulan tertentu yang dimiliki.

Penerapan bentuk dan strategi marketing harus menyesuaikan dengan segmen yang ingin dicapai dan dilakukan dengan menerapkan bentuk marketing dengan strategi yang inovatif. Bentuk-bentuk marketing dapat berupa iklan di media cetak dan elektronik, spanduk dan poster, serta kerjasama partnership dengan mitra kerja. Sedangkan strategi  marketing misalnya dapat dilakukan dengan menciptakan kesan unik dan berbeda, ataupun bahkan yang mengundang controversial  untuk setiap promosi produk yang diperdagangkan. Selain itu dapat dengan meningkatkan keunggulan fungsional dari media promosi yang digunakan, misalnya dengan memberikan voucher makan gratis di rumah makan tertentu dari setiap pencapaian jumlah belanja tertentu.

Strategi marketing dapat diterapkan dengan melakukan penawaran yang powerful, beberapa contohnya adalah dengan melakukan beberapa metode seperti added value, package offer, discount and bonus offer, valued at offer, time limited offer, guarantee , free offer. Metode-metode tersebut dapat juga dilakukan secara parallel dan berkesinambungan sehingga berguna untuk meningkatkan daya tarik pelanggan dan bargaining power dari jenis produk yang ditawarkan. Beberapa metode strategi memiliki karakteristik tersendiri, contohnya adalah discount and bonus offer biasanya cocok untuk diterapkan pada kondisi masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan dan cenderung konsumtif, sedangkan valued at offer dan time limited offer cocok diterapkan pada kondisi dimana konsumen tidak terlalu menghiraukan harga, namun kepuasan dan prestise sebagai kebutuhan utama. Maka penerapan contoh metode yang ada harus menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi bisnis yang dijalankan.

Metode yang dapat diterapkan pada strategi pemasaran harus senantiasa terintegrasi dengan keseluruhan proses bisnis yang ada agar implementasinya berjalan dengan baik. Strategi yang diterapkan biasanya merupakan fungsi situasi dan kondisi yang terjadi, setiap metode merupakan gambaran solusi terhadap kebutuhan akan hasil dari proses bisnis dan analisis situasi yang saling dibenturkan. Implikasi yang terjadi adalah penjembatanan antara proses internal dan eksternal bisnis yang dapat dilakukan jika diterapkan strategi dan metode-metode pemasaran yang tepat. Oleh karena itu penerapan strategi dasar dalam proses pemasaran mutlak dilakukan agar kinerja bisnis dan pencapaian profit dapat optimal.

October 27, 2009 Posted by Danu Pramudita | bisnis | | No Comments Yet

Kepemimpinan dan Seni

Sejarah merupakan pelajaran yang sangat besar dan berarti bagi proses perjalanan suatu bangsa. Momen-momen yang terjadi  pada sejarah telah membuktikan bahwa pilar-pilar bangsa yang merupakan kunci bagi peradaban bangsa dapat terpecah belah, dan tentunya akan mengakibatkan sulitnya bangsa ini untuk memiliki martabat yang dihargai oleh bangsa lain. Contoh nyata yang terjadi adalah saat terjadinya bentrokan antara mahasiswa dan militer  sekitar tahun 70-an yang disebabkan oleh masalah kecil yang memicu permasalahan lebih besar.

Lalu apa yang menyebabkan bentrokan tersebut dapat terjadi?

Sifat kedewasaan dan kepemimpinan adalah sifat yang tidak dimiliki oleh sebagian dari bangsa ini, sehingga hal-hal kecil yang mengakibatkan masalah besar cenderung sering terjadi.

Pemimpin adalah bagaimana cara untuk memimpin diri sendiri agar mampu dipimpin oleh komitmen yang telah dibuat. Pemimpin adalah orang yang senantiasa mendengarkan dengan khidmat pada setiap focus yang dibuatnya, terutama menyangkut hal-hal kecil yang mungkin hanya dianggap kecil oleh orang lain. “Dalam setiap pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir.”

“jika  kamu berlindung dibalik kayu besar dan kayu tersebut ditembak, maka kamu akan terkena tusukan peluru yang tajam oleh senjata yang kuat. Namun jika kamu berlindung dibalik lumpur, maka lumpur itu akan menahanmu dari serangan peluru tajam tersebut. Oleh karena itu jangan pernah menganggap remeh lumpur yang kotor dan lembab tersebut.”

Pemimpin dapat  diciptakan dengan membawanya dalam kesepakatan pada komitmen, dan tidak pada  situasi yang membuatnya taat pada seseorang atau system. Dengan kata lain tidak boleh menciptakan follower, namun ciptakanlah orang yang mau dipimpin.

Setiap manusia akan berguna di segala waktu dan kondisi terkait dengan fungsi kepemimpinannya. Pemimpin tidak berorientsi pada hasil, namun pada proses yang realitanya akan terlihat di masa depan. Pemimpin adalah orang yang senantiasa menempa diri dan akan tercermin dari pandangannya.

Perhatikan apa yang terjadi, dengarkan yang diucapkan, rasakan lingkungan sekitar kita, dan lakukan apa yang harus kita berikan untuk umat manusia.

Disarikan dari materi dialog tokoh

Bersama “Abah Iwan”

PPSDMS Reg.II Bandung

April 23, 2009 Posted by Danu Pramudita | motivasi | | 2 Comments

Fondasi Kepemimpinan

Kepemimpinan akan selalu diliputi dengan niat, harapan, obsesi, keinginan, nafsu, semangat, kepercayaan, pengorbanan, dan perspektif. Yang terpenting adalah pemimpin bukanlah orang yang mengatur, pemimpin bukanlah orang yang besar, pemimpin bukanlah orang terbaik, pemimpin bukanlah orang yang belajar, namun pemimpin adalah orang utusan untuk memegang amanah yang akan menorehkan tinta peradaban melalui kemaslahatan masyarakat dalam jalan yang ideal. Amanah yang dipegang pemimpin sangatlah berat dan besar, bahkan gunung-gunung pun tidak sanggup memikul amanah yang diberikan. Tanggung jawab pemimpin tidaklah sekedar terhadap tugas-tugasnya, organisasinya, ataupun sistemnya, namun ia juga bertanggung jawab terhadap bawahan-bawahannya, team-teamnya, baik secara struktural maupun kultural. Sedikit saja pemimpin tertinggal dalam menjalankan amanah dengan baik maka suka tidak suka dan mau tidak mau dia akan mempertanggung-jawabkannya kelak….

Keteladanan pemimpin sangat dibutuhkan. Pemimpin akan menjadi sosok yang akan selalu diperhatikan setiap saat. Namun seorang pemimpin tidak pernah mengharapkan perhatian, seorang pemimpin tidak pernah mengharapkan keuntungan, dan seorang pemimpin tidak pernah mengharapkan jabatan…

Bagaimana mungkin pemimpin mengharapkan jabatan sedangkan jabatan itu adalah amanah yang bila ia tidak bisa menggenggamnya dengan baik maka ia akan menjadi orang yang paling sengsara…?

Pemimpin akan selalu berusaha memegang amanah dengan baik dan selalu mencoba untuk membuat sesuatu lebih baik, namun sudah hukum alam akan banyak terjadi benturan-benturan yang bukan tidak mungkin dapat mempertaruhkan dirinya, namun bila ia dapat melaluinya dengan baik maka ia adalah orang yang akan pertama kali mendapatkan kebahagiaan yang hakiki…

Teladan kepemimpinan dapat kita ambil dari sebuah kisah seorang Umar bin Abdul Aziz yang tidak pernah berani untuk memegang amanah jabatan pemimpin, bahkan sampai-sampai ia dikejar-kejar oleh orang-orang yang percaya dan berharap penuh padanya, sampai akhirnya ia menerima amanah tersebut karena sudah tidak ada lagi tempat untuk berlari dari kepercayaan yang telah diberikan oleh banyak orang. Kejadian yang menarik adalah ketika pemimpin tersebut mematikan sebuah penerangan yang tinggal satu-satunya karena berasal dari uang rakyat, dan penggunaannya bukan untuk kepentingan masyarakat…

Seorang pemimpin akan menjadi orang yang pertama ketika ia harus berkorban demi rakyatnya, dan menjadi orang yang terakhir ketika ia mendapatkan peluang untuk menikmati kesenangan…pemimpin adalah orang yang selalu dengan ikhlas memberi makan orang buta sedang orang tersebut terus mencaci-maki namanya, dan pemimpin akan selalu melihat pada hakikat dari amanah yang diberikan…

Lantas seperti apakah fondasi terpenting dari seorang pemimpin?

Pepatah mengatakan “Jika ingin melihat seorang lihatlah dari kebiasaannya…maka kau akan tau tindakan-tindakannya…jika kau perhatikan tindakannya maka kau akan mengerti kata-katanya…jika kau dengarkan kata-katanya maka kau akan faham pola pikirnya…dan jika kau cermati pikirannya maka kau akan terhanyut dalam perasaaan hatinya”. mungkin sebagian besar orang mengganggap bahwa kata-kata tersebut hanyalah sebuah hiasan semata, atau mungkin sebagai sesuatu yang berlebihan, namun jika dicermati lebih jauh maka itu adalah sebuah makna yang besar, yang dapat menjadi dasar untuk melihat dan menjadikan seseorang sebagai pemimpin….

Hati seorang pemimpin yang sebenarnya akan selalu tulus dan ikhlas dalam amanah kepemimpinannya. Hati dan perasaanya akan melihat lebih jauh lagi untuk apa amanah diberikan, ia akan menganggap dan melihat berbagai hal yang lebih besar dalam perspektif yang lebih luas, karena lingkungan berharap besar akan kontribusi dari seorang pemimpin, dan semuanya akan tercermin dari kata-kata, tindakan, dan kebiasaannya, namun bukan sekedar retorika…

Pemimpin sesunguhnya adalah seseorang yang faham dan menyadari akan hakikat kepemimpinan itu sendiri, mampu berfikir besar yang tidak hanya untuk dirinya, bawahan-bawahannya, ataupun anggota-anggotanya, namun juga untuk lingkungan yang lebih luas dan membutuhkan sentuhan kontribusi. Mereka adalah orang-orang yang takut akan jabatan, namun kuat dalam memegang amanah jabatan. Pemimpin adalah orang yang dapat menjadi teladan dalam banyak hal, melalui kebiasaan dan tindakan-tindakannya. Mereka yang terbaik adalah yang mampu mencetak kader-kader penerus yang lebih baik melalui sentuhan paradigma dan hati untuk tujuan yang besar…

Transformasi melalui Paradigma dan Hati……….

Untuk Kita, Mereka, dan Peradaban……………

April 18, 2009 Posted by Danu Pramudita | motivasi | | 2 Comments

TRANSFORMASI GERAKAN

Sejarah mengatakan bahwa kebangkitan bangsa Indonesia kembali ditorehkan ketika pergerakan menjelang reformasi pendudukan gedung DPR yang melibatkan mahasiswa dan segenap komponen yang peduli akan Indonesia yang lebih baik. Pergerakan yang dilakukan saat itu banyak mengorbankan pikiran, energi, harta, bahkan jiwa. Hal itu semata-mata dilakukan oleh mahasiswa dalam rangka mengusahakan transformasi fundamental negara untuk menjadikan Indonesia lebih terintegrasi dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Ditambah dengan krisis yang terjadi benyak melemahkan ketahanan negara pada saat itu. Gerakan yang dilancarkan oleh masiswa dengan segenap persatuan dan kesatuan masyarakat membawa angin perubahan untuk terlaksananya konsep dan sistem demokrasi, dan mengubah paradigma sebagian masyarakat bahwa saat itu merupakan kebangkitan kembali fundamental Indonesia.

Atmosfer perjuangan yang heroik dengan turun ke jalan dan menyuarakan aspirasi sangatlah berpengaruh terhadap proses transformasi pada saat itu. Realita yang terjadi saat ini tidaklah sama dengan situasi pada era tersebut. Saat ini pergerakan sangat dibutuhkan, namun dalam hal pembangunan yang sifatnya implementatif dan berkelanjutan, karena paradigma yang telah dibangun perlu langkah lanjutan yang tidak sekedar bersuara, tapi juga bertindak secara nyata. Implementasi nyata perlu dibangun melalui orang-orang yang berani bergerak untuk membangun sumber daya manusia dan perekonomian nasional, karena kedua hal tersebut merupakan tiang untuk membangun Indonesia lebih baik melalui implementasi sistem dan asas yang menyeluruh yang dianut oleh kita. Oleh karena itu pengembangan sector privat dan pendidikan yang fleksibel dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing Indonesia.

Sektor privat, terutama dalam hal entrepreneurship bisa menjadi pilihan yang sangat tepat, karena dalam entrepreneurship pendidikan mental, dan segala yang dibutuhkan untuk membangun pendidikan dan perekonomian melalui pengembangan kompetensi dan wawasan manusia akan berjalan dan meningkat secara signifikan. Bila kita telaah lebih dalam proses kontribusi nyata melalui entrepreneurship  pendidikan yang diciptakan oleh entrepreneurship mencakup 4 hal, yaitu formula STMJ :

1.      Sumber Daya Manusia

2.      Technology

3.      Modal

4.      Jaringan

Sumber daya manusia merupakan kunci untuk selalu bergerak melakukan perubahan. Fokus utama yang pentig untuk dilakukan adalah pada pengembangan paradigma dan karakter manusia itu sendiri. Karakter yang kuat akan menghasilkan pribadi yang tangguh, mental yang kuat dan tahan banting, serta semangat dan keinginan positif selalu terpancar, serta efektifitas  dan efisiensi yang tinggi. Pembentukan prilaku melalui entrepreneurship secara otomatis akan mendidik karakter manusia untuk lebih bernas.

Peningkatan teknologi untuk membangun korporasi dalam kekuatan entrepreurship mutlak diperlukan untuk meningkatkan daya saing korporasi dan bangsa. Teknologi akan terus berkembang dan dikembangkan dalam rangka mempertahankan hidup setiap komponen dan peradaban. Mereka yang memperhatikan teknologi akan terus berusaha menjadi yang terbaik, karena kalau tidak maka konsekuensi kerugian dan kehancuran akan dialami. Teknologi juga merupakan salah satu ukuran keberhasilan pembangunan nasional, karena akan berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Faktor ketiga, yaitu modal akan ikut mempengaruhi percepatan pembangunan entrepreneur khusunya, dan bangsa pada umumnya, karena dengan modal seseorang akan memiliki semangat untuk mulai dan terus membangun. Dalam hal ini modal yang sifatnya financial bisa dibangun melalui iklim untuk memiliki mental dalam melakukan investasi berjangka yang akan berguna dalam percepatan kemajuan iklim entrepreneurship.

Networking merupakan aspek penting dalam usaha untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam berwirausaha sehingga tercapai percepatan dalam mencapai target-target. Dalam networking dibutuhkan kemampuan interpersonal skill yang baik agar prosesnya dapat optimal.

Pengembangan sektor privat ini cukup efektif untuk mengoptimalkan manfaat dalam peningkatan kualitas pendidikan, mental, dan ketahanan menghadapi persoalan karena entrepreneur akan selalu berhadapan dengan masalah-masalah dan resiko yang tidak mudah untuk diantisipasi ataupun diselesaikan. Pendidikan karakter entrepreneur dapat menghasilkan orang-orang yang matang dalam bersikap yang tentunya dengan kode etik yang sesuai dengan norma-norma.

Selain itu perkembangan dunia usaha sedikit demi sedikit akan memacu perkembangan perekonomian nasional melalui pemberdayaan sektor ril dengan peranan badan-badan usaha besar dan usaha kecil menengah. Tumbuhnya badan-badan usaha yang mapan melalui generasi-generasi penerus terutama para mahasiswa akan secara otomatis meningkatkan kemandirian bangsa yang berimplikasi pada membesarnya penerimaan negara, kesejahteraan yang meningkat, jumlah pengangguran menurun, dan tingkat kemiskinan dapat dikurangi.

Usaha menumbuhkan semangat kewirausahaan dan proses implementasinya dapat menjadi bentuk kontribusi nyata yang bisa dilakukan semua kalangan, terutama mahasiswa sebagai kalangan intelektual yang memiliki akses lebih sehingga proses pematangan pendidikan dan pembangunan perekonomian bisa sedikit demi sedikit ditingkatkan dan terjadi percepatan dalam meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.

Pengembangan sektor ini pun penting dan perlu ditunjang dengan adanya suatu system yang mampu menopang keberadaannya. Hal ini bisa dilakukan dengan perbaikan sektor pemerintahan dengan mangatasi masalah yang sangat crusial dan sifatnya mengakar dalam diri masyarakat Indonesia sendiri.

March 30, 2009 Posted by Danu Pramudita | kajian | | No Comments Yet

Ketahanan Nasional

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak potensi yang luar biasa jika disandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Beragam ciri dan kekhasan alam dan budayanya membuat banyak efek positif  terjadi, bahkan berbondong-bondong turis asing ingin ikut merasakan keelokan dan keindahan macam-macam keragamannya. Predikat sebagai macan asia yang pernah melekat pada nama besar Indonesia pada beberapa puluh  tahun silam  mengukuhkan Indonesia sebagai bangsa yang sangat disegani oleh negara-negara lain di dunia. Tentunya predikat tersebut tidak terlepas dari besarnya potensi yang dimiliki bangsa kita, dan kekuatan bangsa kita dalam berkiprah di kancah dunia, yang sudah pasti harus ditunjang dengan pertahanan dan keamanan yang kuat. Karena pertahanan dan keamanan merupakan salah satu komponen yang sangat berpengaruh terhadap optimalisasi proses pembangunan bangsa dalam keberjalanan sebuah negara. Ia merupakan pilar penting sebagai ujung tombak pergerakan negara pada era globalisasi yang terus bergulir. Kita harus senantiasa belajar dari sejarah bahwa untuk menjadikan bangsa ini terpandang kita harus terus belajar dan mengambil makna dari setiap kejadian di masa lalu.

Perjalanan selama 63 tahun ternyata belum cukup untuk membuat bangsa kita matang walaupun potensi yang dimiliki cukup untuk menjadikan bangsa Indonesia besar. Hari demi hari yang terlihat justru fluktuasi  yang cenderung tidak pernah stabil terhadap peningkatan kualitas bangsa kita. Hal ini juga terbukti dari banyaknya kasus-kasus yang terjadi di negara kita. Gejolak-gejolak negative baik yang berasal dari dalam negeri dan dari luar negeri bahkan sampai membuat negara kita berada pada ketidakstabilan. Bertahun-tahun secara tidak sadar pertahanan dan kemanan negara kita mengalami tekanan yang luar biasa, yang tidak hanya pertahanan dan keamanan fisik, tapi juga moral, hingga ideology.

Pertahanan fisik berada pada situasi yang tidak diharapkan, terorisme, infiltrasi asing yang mempengaruhi keamanan nasional, bahkan asset-asset negara yang dijual ke negara asing, seperti perusahaan telekomunikasi indosat dapat mengganggu stabilitas pertahanan negara. Keamanan taktis yang menyangkut wilayah kepulauan kita masih belum terjaga secara optimal, laut kita yang notabenenya menghasilkan ikan-ikan dalam jumlah yang sangat besar, spesies trumbu karang yang hampir meliputi  seluruh spesies yang ada di dunia, ikan paus langka yang hanya ada di perairan Indonesia ternyata menyimpan tragedy yang sangat memilukan hati. Bayangkan saja, berkali-kali sumber daya laut kita dicuri dengan tidak bertanggung jawab oleh oknum-oknum asing namun yang terjadi adalah kita tidak pernah mengambil pelajaran dari kecerobohan-kecerobohan yang kita buat sendiri.

Moralitas bangsa yang kian hari kian memperihatinkan merupakan bentuk dari lemahnya pendirian sebagai bangsa yang berlandaskan pada nilai-nilai moral pancasila. Lemahnya moralitas bangsa merupakan salah satu realita yang dipengaruhi oleh masuknya budaya-budaya asing ke dalam setiap aspek  kehidupan manusia Indonesia. Beberapa fakta, seperti fun, food, dan fashion yang terus berkembang merupakan beberapa hal yang terlihat baik sebagai proses globalisasi, namun realita-realita tersebut justru dapat melemahkan bangsa kita. Ditambah lagi dengan infiltrasi media yang paling efektif mempengaruhi tingkat persepsi masyarakat terhadap suatu isu tertentu. Media yang secara tidak langsung membawa pesan untuk mencitrakan budaya hedonisme sebagai budaya yang patut ditiru dan dikembangkan karena adanya proses globalisasi. Perang ideology juga merupakan salah satu factor yang sangat crusial untuk diperhatikan dalam proses mempertahankan jati diri bangsa. Ideologi-ideologi dan pemikiran banyak yang mengaburkan pandangan bangsa kita tentang kesesuaiannya dengan ideology pancasila yang kita miliki.

Tantangan terbesar untuk meningkatkan pertahan dan keamanan bangsa kita adalah bagaimana cara untuk mempertahankan moralitas bangsa ditengah krisis identitas yang melanda bangsa kita sehingga kita dapat tetap berpegang teguh pada ideology pancasila yang dideklarasikan sejak 63 tahun lalu, dan akan berimplikasi pada tercapainya stabilitas pertahanan dan keamanan bangsa karena sebagian besar energy akan tercurah untuk pembangunan yang berkelanjutan dan berlandaskan pada kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa kita.

January 28, 2009 Posted by Danu Pramudita | kajian | | No Comments Yet

Kepemimpinan Diri dan Manusia

Perjalanan fitrah manusia mengatakan bahwa dalam pikiran dan keyakinan yang sehat akan tumbuh karakter-karakter yang memiliki komitmen tinggi dan integritas. Setiap manusia mendambakan sebuah peran yang berarti dalam kehidupan sehingga masing-masing individu merasa bermanfaat dan mendapatkan hakikat hidup yang sesungguhnya. Aspek peran tersebut merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi tingkah laku masing-masing pribadi. Berdasarkan realita dan aura yang ditimbulkan oleh perasaan akan kebutuhan aktualisasi diri dalam peran yang dilakoninya, maka setiap manusia akan senantiasa berusaha untuk menjadi orang yang memiliki pengaruh dan peran yang signifikan di lingkungan tempatnya mengaktualisasikan diri. Dengan kata lain manusia akan selalu berusaha untuk menjadi pemimpin, walaupun keinginan tersebut hanya bersitan hati saja.

Kepemimpinan yang mencakup seluruh aspek kehidupan akan selalu menjadi harapan, dan nafas peradaban. Orang-orang yang telah rela mengorbankan waktu, jiwa, dan keringatnya untuk melayani, dan mengorganisasikan sebuah lembaga belum tentu memenuhi harapan akan hakikat kepemimpinan yang mereka sendiri rasakan. Sungguh tidak bijak jika kita berfikir bahwa pemimpin hanyalah orang yang akan mengatur dan mendidik orang lain untuk bersama-sama terintegrasi dalam pencapaian visi sebuah kelembagaan, tanpa bercermin pada diri sendiri

Konsep kepemimpinan yang sesungguhnya adalah kepemimpinan yang mampu mengelola diri sendiri dalam koridor nilai-nilai yang telah disepakati dan diciptakan oleh masing-masing individu sebagai bagian dari masyarakat. Memimpin orang lain sudah pasti lebih sulit daripada mengelola diri sendiri, tapi bukan tidak mungkin kita mampu memimpin orang lain dengan kepemimpinan diri pribadi yang masih jauh dari ideal.

Kita tentunya telah menetapkan visi, misi, dan target, setelah itu maka ujian terberat berikutnya adalah bagaimana mempertahankan target-target yang telah dipatok agar berjalan sebagaimana mestinya untuk ketercapaian misi, dan visi tersebut. Keteguhan hati dan pengorbanan merupakan satu-satunya cara untuk menumbuhkan kepemimpinan yang sesungguhnya. Integritas merupakan salah satu kunci dalam proses menjadi seorang pemimpin. Bagaimana mungkin seorang pemimpin lalai dari dirinya sendiri dalam memberikan performa terbaik sedangkan dia merupakan sosok yang amat dinanti?

Hal ini merupakan indikator yang sederhana namun menjadi pelik ketika seseorang tidak pernah tersadarkan dan merenungi kepemimpinan yang sesungguhnya. Hendaknya seorang pemimpin senantiasa kembali pada evaluasi diri dan berlapang dada untuk melakukan pengadilan atas dirinya sendiri sebelum mengkoordinasi dan mengadili orang lain.

Semoga sedikit tulisan ini dapat menjadi ajang introspeksi diri saya pribadi dan rekan-rekan yang membacanya…..

November 14, 2008 Posted by Danu Pramudita | motivasi | | No Comments Yet

Tonggak Peradaban Bangsa

Perjalanan bangsa indonesia telah melalui beberapa tahun yang penuh dengan perjuangan. Peluh dan darah menjadi saksi atas tegaknya merah putih. Namun begitu banyak masalah dan hambatan mengiringi usia bangsa indonesia hingga saat ini. Mulai dari masalah kesejahteraan masyarakat, kemandirian bangsa, keadilan social, hingga masalah kemanusiaan, dan yang berbau SARA. Masalah kemiskinan dan kesejahteraan agaknya senantiasa menjadi sorotan utama dan merupakan hal yang paling mudah menjadi indikator, serta dianggap paling penting dalam keberjalanan peradaban bangsa, disamping itu pendidikan, social budaya, persoalan hak asasi manusia, politik, ekonomi, serta dasar keberadaan suatu bangsa juga merupakan hal yang tidak bisa dilupakan begitu saja.

Fakta saat ini mengatakan bahwa Negara kita belum bisa berjalan seperti yang diharapkan, hal ini terbukti dari belum terpenuhinya parameter-parameter keberhasilan suatu bangsa melalui indikator-indikator universal, contohnya masih banyaknya anak-anak gelandangan yang belum bisa menikmati pendidikan dengan layak, banyaknya masyarakat kelas bawah yang hidup di kolong-kolong jembatan, ataupun rumah-rumah semi permanen yang bisa digusur petugas tramtib kapanpun, serta masih benyaknya pengangguran, dan orang-orang dhuafa.

Apabila kita meninjau lebih jauh, yang menjadi permasalahan utama dalam kecarutmarutan yang terjadi adalah akibat kepemimpinan yang belum bisa menjadi pengarah, dan pendobrak suatu bangsa, serta moralitas bangsa yang buruk sehingga korupsi yang banyak terjadi sedikit demi sedikit akan meruntuhkan Negara. “Lantas yang menjadi pertanyaan adalah kepemimpinan seperti apa yang ideal? Dan siapa yang seharusnya memimpin Negara ini?” pertanyaan itu yang sering kali terbersit di benak kita setiap kali merenungi dan menyadari kondisi bangsa yang mungkin dapat dikatakan berada di ambang batas statis, atau bahkan kehancuran.

Sejarah mengatakan bahwa kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang berkharisma dan yang mampu menjadi tauladan bagi setiap pengikutnya, hal ini terbukti dapat menjadi pendobrak, ketika pada era kepemimpinan orang-orang yang paling berpengaruh di dunia seperti Nabi Muhammad SAW telah dapat membuat transformasi global yang merubah peradaban dunia dari kebodohan, dan kejahiliahan menuju peradaban yang mulia.

Di Indonesia sebuah peradaban kebangsaan dimulai oleh sebuah kesadaran akan kebutuhan yang terintegrasi dan sebuah penorehan tinta kebangkitan. Hal ini ditorehkan dalam sumpah pemuda yang merupakan sebuah momen penting dalam sejarah kebangkitan bangsa, dan telah mengungkap fakta-fakta bahwa nafas peradaban dan detak jantung keberlangsungan suatu bangsa terletak pada pundak para pemuda. Pemuda Indonesia yang mencetuskan sumpah pemuda dalam kongres pemuda dan tergabung dalam persatuan pemuda-pemudi Indonesia menjadi kunci utama dalam membuat sejarah yang luar biasa.

Realita yang terjadi saat ini pada pemuda adalah budaya yang semakin pragmatis dan rasa nasionalisme yang semakin luntur, hal ini terbukti dari semakin sedikitnya pemuda-pemuda yang menjiwai makna sumpah pemuda, terutama dilihat dari kuantitas minimnya upacara peringatan sumpah pemuda yang sering diadakan di kampus-kampus. Hal ini terjadi karena semakin terkikisnya identitas kebangsaan kita. Para pemuda lebih cenderung untuk meniru budaya-budaya asing yang jauh dari nilai-nilai nasionalisme, daripada berupaya untuk mempertahankan keutuhan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Padahal jika ditilik lebih jauh lagi sumpah pemuda harusnya bisa menjadi titik balik untuk merekonstruksi aspek-aspek kebangsaan kita, dari penghayatan nilai-nilai luhur dan makna yang terkandung dalam sumpah pemuda itu sendiri.

Oleh karena itu kita sebagai generasi muda hendaknya menyadari kondisi yang terjadi pada negara kita, bahwa negara kita masih membutuhkan curahan keringat dan pegorbanan para pemuda, sehingga akan muncul semangat untuk menciptakan peradaban yang lebih baik, dan mampu mengoptimalkan peran strategis pemuda dalam kebangkitan bangsa.

Untuk kebangkitan Indonesia…….

Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater……

Merdeka ……………..

October 30, 2008 Posted by Danu Pramudita | kajian | | No Comments Yet

RAMADHAN : SEMIOTIKA PERUBAHAN ATAUKAH PERUBAHAN SEBUAH SEMIOTIKA…?

Bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, berbagai karunia dan pahala berlimpah pada bulan yang hanya datang sekali dalam satu tahun, tentunya dengan berbagai konsekuensi yang berimplikasi pada pemenuhan kebutuhan dan segala macam bentuk tindakan dan sudah pasti bergantung pada paradigma dan mindset berfikir masing-masing individu. Selama keberjalanan waktu sejak zaman Nabi Muhammad SAW, telah terbentuk paradigma berfikir yang hampir sebagian besar umat muslim menganggap bulan ramadhan sebagai bulan yang penuh kebahagiaan dan kaya akan berkah sehingga dapat membentuk pola pikir dan tindakan yang memang sesuai dasar dari bulan ramadhan.

Puasa merupakan ibadah yang diwajibkan pada bulan ramadhan, salah satu hikmah besar yang terkandung di bulan ramadhan adalah untuk mewujudkan jiwa kepekaan sosial, sabar, tawadlu, dan semakin mendekatkan diri pada Alloh yang maha kuasa, namun apakah hakikat puasa di bulan ramadhan itu sendiri? Merupakan sebuah pertanyaan yang mungkin klise bagi sebagian orang, namun justru disanalah letak esensi dari puasa itu sendiri.

Pada dasarnya puasa di bulan ramadhan adalah sebuah momen untuk melakukan jihad dan perbaikkan-perbaikkan sehingga dapat tercapai sebuah proses transformasi diri dari situasi yang kurang baik menjadi pribadi-pribadi yang kaffah dan dapat melaksanakan fungsi manusia sebagai kalifah di dunia, momen ini diberikan kepada manusia secara kolektif dan dalam bentuk kewajiban agar manusia menyadari akan pentingnya bertransformasi diri secara komunal dan melaksanakan amal yang sifatnya jamai dalam satu waktu sehingga dapat mengukuhkan kedudukan umat muslim diantara umat-umat yang lainnya.

Yang menjadi permasalahan adalah transformasi seperti apakah yang harus ditimbulkan dalam diri umat muslim, dan sudahkah tercapai sinkronisasi antara paradigma berfikir dengan implementasi tindakan dalam proses transformasi, baik secara individu maupun kolektif?

Gejolak-gejolak yang timbul di masyarakat umumnya, dan umat muslim indonesia khususnya telah membawa berbagai macam efek, terutama dalam membentuk paradigma berfikir masyarakat. Setiap manusia harus senantiasa melakukan perubahan, yang intinya adalah perubahan untuk semakin mendekatkan diri kepada Alloh SWT, karena hal itu merupakan sebuah titik awal yang akan membawa dampak bagi seluruh aspek kehidupan agar menjadi lebih baik.

Banyak orang melaksanakan puasa di bulan ramadhan yang tidak lebih hanya menahan lapar dan haus, hanya ritual semata untuk menunaikan kewajiban tanpa mengerti esensi yang terkandung. Secara individu di sela-sela aktifitas kita sering tidak menyadari bahwa secara tidak sengaja mengurangi pahala dari puasa itu sendiri, misalnya dengan menggunjing, mengucapkan kata-kata kotor, berbohong, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan norma-norma islam itu sendiri. Secara kolektif pun kita masih belum bisa menerapkan hakikat puasa yang sebenarnya, ketika ada sebagian orang yang tidak melaksanakan puasa melakukan makan dan minum tanpa menyadari pentingnya sikap saling menghargai, kita masih sering marah dan bahkan mungkin melakukan cacian dan makian kepada orang tersebut yang seharusnya kita dapat dapat berfikir lebih bijak lagi dan tidak hanya menyalahkan salah satu pihak tersebut. Merupakan sebuah realita jika umat islam yang ikut melaksanakan puasa pun belum memenuhi hakikat yang seesungguhnya dari puasa itu sendiri, beberapa waktu sebelumnya bahkan masih terjadi aksi-aksi anarkisme yang seharusnya tiap-tiap umat muslim dapat mengambil tindakan yang lebih bijak dan dewasa dengan tetap berpedoman pada Al`quran dan sunah, dengan tanpa merusak tujuan di balik puasa itu sendiri yang memang menjadi target utama kita, yaitu untuk melakukan perubahan diri. Jika ditilik lebih jauh lagi, secara kolektif pun amalan yang bersifat jama`i ternyata memang belum dapat mengejawantahkan dan mengimplementasikan transformasi yang berlandaskan pada nilai-nilai islam yang universal dan menyeluruh.

Dalam tataran ideal sebuah transformasi harus menyentuh segala aspek kehidupan, baik individu, masyarakat, bangsa dan negara. Berbagai segi yang harus tersentuh oleh esensi dari puasa pada setiap individu adalah segi akal, fisik, dan ruhani, sedangkan dari segi kolektif harus menyentuh tataran ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, sehingga puasa dapat benar-benar menjadi sarana perubahan yang tidak hanya biasa-biasa saja, tapi menjadi perubahan yang luar biasa.

Puasa atau bulan Ramadhan bukanlah sebuah simbol untuk melakukan perubahan, tetapi yang paling penting adalah puasa merupakan sarana untuk melakukan perubahan simbol-simbol yang selama ini diartikan hanya sebagai ritual dan kegiatan sebelum hari raya agar tiap-tiap individu yang menjalankannya dapat merasakan perubahan yang memang menjadi tujuan utama dalam menjalankan puasa itu sendiri, dan setiap perubahan tersebut dapat terimplementasi dalam kehidupan dalam sebuah lingkup yang menyeluruh sehingga tercapainya hakikat puasa yang memang sesuai dengan nilai-nilai islam, dapat menjadi sarana jihad yang sesungguhnya, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta seperti yang diharapkan Rasulullah SAW.

September 27, 2008 Posted by Danu Pramudita | motivasi | | No Comments Yet