Pendakian Terdalam

think, act, and contribute

Persepsi dan Kebangkitan Bangsa

Pembangunan berlandaskan persepsi.

Masih terasa dalam pikiran kita bahwa deskripsi akan sejarah bangsa akan senantiasa menjadi realita yang membangkitkan ruh perjuangan dan nasionalisme. Ruh-ruh perjuangan tumbuh dan bangkit dalam sebuah pengejawantahan semangat untuk membuat negara ini senantiasa mengalami kemajuan dan menjadi bangsa yang terdepan dalam konteks kebangkitan bangsa. Kebangkitan bangsa merupakan proses percepatan pembangunan yang dilakukan dengan banyak metode. Metode percepatan pembangunan diimplementasikan dalam berbagai bentuk, mulai dari pembangunan fisik, sumber daya manusia, mental, hingga pembangunan persepsi bangsa. Bangsa kita sudah sering dicekoki dengan pembangunan yang sifatnya terlihat dan tidak mengakar, padahal lebih dari itu, faktor pembangunan alam bawah sadar seringkali dilupakan oleh elemen bangsa kita. Membangkitkan alam bawah sadar merupakan hal yang mutlak dan sudah seharusnya menjadi prioritas pertama dalam proses percepatan bangsa. Semangat, motivasi, dan daya juang merupakan hal terpenting dalam menentukan proses lanjutan sebagai kekuatan awal untuk mencapai tujuan akhir.

Pembangunan alam bawah sadar yang bersifat mengakar dapat dibangkitkan dengan membangun persepsi. Persepsi positif sangat dibutuhkan untuk menstimulus gairah dan semangat awal dalam proses yang terintegrasi untuk kebangkitan bangsa. Persepsi positif dapat dibangun dengan memunculkan fakta positif dan yang bersifat mendorong. Isu-isu kebangsaan penting untuk dimunculkan sebagai stimulus persepsi dalam pencapaian bangsa. Sebagai contoh yaitu beberapa waktu yang lalu bangsa Indonesia baru menghadapi sebuah momen penting dalam transisi kepemimpinan Indonesia. Sebuah bentuk pengejawantahan  politik dalam sebuah dinamika kebangsaan yang menjadi hal mutlak ketika berbicara tentang kepemimpinan. Momen tersebut dapat dibangun menjadi sebuah persepsi yang positif ataupun juga persepsi negatif.

Isu-isu kebangsaan ada yang bersifat membangkitkan kedua persepsi tersebut ataupun salah satunya yang positif. Terdapat isu-isu besar yang dapat digunakan dalam membangun persepsi positif yang dapat digunakan untuk kemajuan bangsa kedepan, yaitu prestasi bangsa. Prestasi bangsa dapat membawa pengaruh positif dalam pembangunan bangsa sehingga dapat membawa kebanggaan bangsa kita. Sebagai contohnya adalah banyak kalangan memperkirakan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan yang sangat diperhitungkan di dunia. Berbagai fakta dapat dilihat dari kemajuan dan prestasi yang dicapai Indonesia. Sudah menjadi tradisi bahwa anak-anak bangsa yang dikirimkan menjadi delegasi dalam olimpiade science internasional selalu menorehkan prestasi. Medali Emas Olimpiade Fisika Internasional dan Olimpiade Biologi Internasional berhasil dipertahankan pada juli 2009 di Meksiko, Tim Garuda Parahyangan mendapat juara I IEICE Communication Society Award, dan juara II LSI of the year for student dari Semiconductor Industry Newspaper pada 2008 yang lalu di Okinawa, Jepang. Prestasi yang diraih bukan hanya prestasi kompetisi, prestasi industri pun dimiliki dengan pembuatan panser oleh PT Pindad, BPPT, dan Dephan yang mampu menghemat pembelian 200 panser sebesar 750 milyar, padahal Indonesia memiliki minimal 4000 panser. Produksi panser ini direncanakan pemerintah untuk diekspor ke negara-negara di Asia.  Baru-baru ini dapat kita lihat juga para insinyur-insinyur Indonesia berhasil menciptakan roket tercepat di dunia tipe RX-420 Lapan dengan seluruh komponennya buatan Indonesia. Pembuatan roket ini membuat gentar Australia, Malaysia dan Singapura karena konon peluncuran roket ini dapat mengintai aktifitas illegal mereka di wilayah perbatasan kita sehingga diharapkan dengan peluncuran roket ini keamanan dan pertahanan negara dapat ditingkatkan. Beberapa contoh prestasi tersebut dapat membuat persepsi positif bagi setiap individu jika senantiasa dipublikasikan sehingga yang terjadi adalah dapat tercapainya kebangkitan bangsa melalui pembangunan pondasi awal yang dibutuhkan.

Media sebagai katalisator.

Sebagian media atau bahkan masyarakat banyak yang memproyeksikan kemajuan Indonesia dengan berkaca pada fakta kekurangan dan kelemahan. Lebih dari itu bahwa sebenarnya masa depan bangsa Indonesia juga sebaiknya dilihat dari kelebihan dan prestasi-prestasi yang telah diukir anak bangsa masa kini. Bukan berarti kita senang dan terlena dengan capaian saat ini, namun melalui fakta saat ini masyarakat dan pemerintah bisa membuat grand design masa depan dengan melihat capaian saat ini sehingga dapat melakukan tindak lanjut kedepannya. Kekurangan dan kelemahan dapat mengakibatkan timbulnya sikap rendah diri sehingga membuat kita hanya berkutat pada bagaimana cara memperbaiki kekurangan. Jika kita jeli, sesungguhnya banyak potensi dan kelebihan yang dimiliki oleh bangsa kita. Kelebihan ini dapat menjadi semangat untuk mengembangkan potensi yang kita miliki sehingga pergerakan dan pembangunan yang dilakukan dapat efektif dan efisien. Dengan kata lain bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, tapi membuka mata lebih lebar untuk melihat kelebihan yang ada. Kelebihan yang dapat membangun persepsi positif sangat dibutuhkan, dalam hal ini peran media sangat penting sebagai sebuah penyalur informasi kepada masyarakat, terutama untuk prestasi dan capaian-capaian yang telah dilakukan disamping isu-isu yang komersial dan hanya meningkatkan rating semata.

Media sebagai sebuah instrument yang independent sudah seharusnya menjadi katalisator pembangunan bangsa, dan bukan hanya sekedar penyampai fakta dan opini. Media berperan sebagai alat untuk menumbuhkan alam bawah sadar akan persepsi masyarakat karena media menyajikan berita dan fakta secara berulang-ulang. Selain itu berita-berita tersebut dapat diakses secara bebas dan terbuka oleh seluruh lapisan masyarakat. Seiring waktu dengan membentuk persepsi masyarkat, media akan ikut menentukan terbentuknya mental, yang tentunya akan berdampak pada terbentuknya perilaku masyarkat. Oleh karena itu merupakan sebuah manfaat yang besar jika media ikut berperan dalam membangun watak bangsa melalui tayangan yang membentuk persepsi positif terhadap bangsa dan negaranya. Keseluruhan elemen bangsa, termasuk media diharapkan dapat berfungsi secara sinergis untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia.

October 27, 2009 Posted by | motivasi | 1 Comment

Kepemimpinan dan Seni

Sejarah merupakan pelajaran yang sangat besar dan berarti bagi proses perjalanan suatu bangsa. Momen-momen yang terjadi  pada sejarah telah membuktikan bahwa pilar-pilar bangsa yang merupakan kunci bagi peradaban bangsa dapat terpecah belah, dan tentunya akan mengakibatkan sulitnya bangsa ini untuk memiliki martabat yang dihargai oleh bangsa lain. Contoh nyata yang terjadi adalah saat terjadinya bentrokan antara mahasiswa dan militer  sekitar tahun 70-an yang disebabkan oleh masalah kecil yang memicu permasalahan lebih besar.

Lalu apa yang menyebabkan bentrokan tersebut dapat terjadi?

Sifat kedewasaan dan kepemimpinan adalah sifat yang tidak dimiliki oleh sebagian dari bangsa ini, sehingga hal-hal kecil yang mengakibatkan masalah besar cenderung sering terjadi.

Pemimpin adalah bagaimana cara untuk memimpin diri sendiri agar mampu dipimpin oleh komitmen yang telah dibuat. Pemimpin adalah orang yang senantiasa mendengarkan dengan khidmat pada setiap focus yang dibuatnya, terutama menyangkut hal-hal kecil yang mungkin hanya dianggap kecil oleh orang lain. “Dalam setiap pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir.”

“jika  kamu berlindung dibalik kayu besar dan kayu tersebut ditembak, maka kamu akan terkena tusukan peluru yang tajam oleh senjata yang kuat. Namun jika kamu berlindung dibalik lumpur, maka lumpur itu akan menahanmu dari serangan peluru tajam tersebut. Oleh karena itu jangan pernah menganggap remeh lumpur yang kotor dan lembab tersebut.”

Pemimpin dapat  diciptakan dengan membawanya dalam kesepakatan pada komitmen, dan tidak pada  situasi yang membuatnya taat pada seseorang atau system. Dengan kata lain tidak boleh menciptakan follower, namun ciptakanlah orang yang mau dipimpin.

Setiap manusia akan berguna di segala waktu dan kondisi terkait dengan fungsi kepemimpinannya. Pemimpin tidak berorientsi pada hasil, namun pada proses yang realitanya akan terlihat di masa depan. Pemimpin adalah orang yang senantiasa menempa diri dan akan tercermin dari pandangannya.

Perhatikan apa yang terjadi, dengarkan yang diucapkan, rasakan lingkungan sekitar kita, dan lakukan apa yang harus kita berikan untuk umat manusia.

Disarikan dari materi dialog tokoh

Bersama “Abah Iwan”

PPSDMS Reg.II Bandung

April 23, 2009 Posted by | motivasi | 2 Comments

Fondasi Kepemimpinan

Kepemimpinan akan selalu diliputi dengan niat, harapan, obsesi, keinginan, nafsu, semangat, kepercayaan, pengorbanan, dan perspektif. Yang terpenting adalah pemimpin bukanlah orang yang mengatur, pemimpin bukanlah orang yang besar, pemimpin bukanlah orang terbaik, pemimpin bukanlah orang yang belajar, namun pemimpin adalah orang utusan untuk memegang amanah yang akan menorehkan tinta peradaban melalui kemaslahatan masyarakat dalam jalan yang ideal. Amanah yang dipegang pemimpin sangatlah berat dan besar, bahkan gunung-gunung pun tidak sanggup memikul amanah yang diberikan. Tanggung jawab pemimpin tidaklah sekedar terhadap tugas-tugasnya, organisasinya, ataupun sistemnya, namun ia juga bertanggung jawab terhadap bawahan-bawahannya, team-teamnya, baik secara struktural maupun kultural. Sedikit saja pemimpin tertinggal dalam menjalankan amanah dengan baik maka suka tidak suka dan mau tidak mau dia akan mempertanggung-jawabkannya kelak….

Keteladanan pemimpin sangat dibutuhkan. Pemimpin akan menjadi sosok yang akan selalu diperhatikan setiap saat. Namun seorang pemimpin tidak pernah mengharapkan perhatian, seorang pemimpin tidak pernah mengharapkan keuntungan, dan seorang pemimpin tidak pernah mengharapkan jabatan…

Bagaimana mungkin pemimpin mengharapkan jabatan sedangkan jabatan itu adalah amanah yang bila ia tidak bisa menggenggamnya dengan baik maka ia akan menjadi orang yang paling sengsara…?

Pemimpin akan selalu berusaha memegang amanah dengan baik dan selalu mencoba untuk membuat sesuatu lebih baik, namun sudah hukum alam akan banyak terjadi benturan-benturan yang bukan tidak mungkin dapat mempertaruhkan dirinya, namun bila ia dapat melaluinya dengan baik maka ia adalah orang yang akan pertama kali mendapatkan kebahagiaan yang hakiki…

Teladan kepemimpinan dapat kita ambil dari sebuah kisah seorang Umar bin Abdul Aziz yang tidak pernah berani untuk memegang amanah jabatan pemimpin, bahkan sampai-sampai ia dikejar-kejar oleh orang-orang yang percaya dan berharap penuh padanya, sampai akhirnya ia menerima amanah tersebut karena sudah tidak ada lagi tempat untuk berlari dari kepercayaan yang telah diberikan oleh banyak orang. Kejadian yang menarik adalah ketika pemimpin tersebut mematikan sebuah penerangan yang tinggal satu-satunya karena berasal dari uang rakyat, dan penggunaannya bukan untuk kepentingan masyarakat…

Seorang pemimpin akan menjadi orang yang pertama ketika ia harus berkorban demi rakyatnya, dan menjadi orang yang terakhir ketika ia mendapatkan peluang untuk menikmati kesenangan…pemimpin adalah orang yang selalu dengan ikhlas memberi makan orang buta sedang orang tersebut terus mencaci-maki namanya, dan pemimpin akan selalu melihat pada hakikat dari amanah yang diberikan…

Lantas seperti apakah fondasi terpenting dari seorang pemimpin?

Pepatah mengatakan “Jika ingin melihat seorang lihatlah dari kebiasaannya…maka kau akan tau tindakan-tindakannya…jika kau perhatikan tindakannya maka kau akan mengerti kata-katanya…jika kau dengarkan kata-katanya maka kau akan faham pola pikirnya…dan jika kau cermati pikirannya maka kau akan terhanyut dalam perasaaan hatinya”. mungkin sebagian besar orang mengganggap bahwa kata-kata tersebut hanyalah sebuah hiasan semata, atau mungkin sebagai sesuatu yang berlebihan, namun jika dicermati lebih jauh maka itu adalah sebuah makna yang besar, yang dapat menjadi dasar untuk melihat dan menjadikan seseorang sebagai pemimpin….

Hati seorang pemimpin yang sebenarnya akan selalu tulus dan ikhlas dalam amanah kepemimpinannya. Hati dan perasaanya akan melihat lebih jauh lagi untuk apa amanah diberikan, ia akan menganggap dan melihat berbagai hal yang lebih besar dalam perspektif yang lebih luas, karena lingkungan berharap besar akan kontribusi dari seorang pemimpin, dan semuanya akan tercermin dari kata-kata, tindakan, dan kebiasaannya, namun bukan sekedar retorika…

Pemimpin sesunguhnya adalah seseorang yang faham dan menyadari akan hakikat kepemimpinan itu sendiri, mampu berfikir besar yang tidak hanya untuk dirinya, bawahan-bawahannya, ataupun anggota-anggotanya, namun juga untuk lingkungan yang lebih luas dan membutuhkan sentuhan kontribusi. Mereka adalah orang-orang yang takut akan jabatan, namun kuat dalam memegang amanah jabatan. Pemimpin adalah orang yang dapat menjadi teladan dalam banyak hal, melalui kebiasaan dan tindakan-tindakannya. Mereka yang terbaik adalah yang mampu mencetak kader-kader penerus yang lebih baik melalui sentuhan paradigma dan hati untuk tujuan yang besar…

Transformasi melalui Paradigma dan Hati……….

Untuk Kita, Mereka, dan Peradaban……………

April 18, 2009 Posted by | motivasi | 2 Comments

Kepemimpinan Diri dan Manusia

Perjalanan fitrah manusia mengatakan bahwa dalam pikiran dan keyakinan yang sehat akan tumbuh karakter-karakter yang memiliki komitmen tinggi dan integritas. Setiap manusia mendambakan sebuah peran yang berarti dalam kehidupan sehingga masing-masing individu merasa bermanfaat dan mendapatkan hakikat hidup yang sesungguhnya. Aspek peran tersebut merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi tingkah laku masing-masing pribadi. Berdasarkan realita dan aura yang ditimbulkan oleh perasaan akan kebutuhan aktualisasi diri dalam peran yang dilakoninya, maka setiap manusia akan senantiasa berusaha untuk menjadi orang yang memiliki pengaruh dan peran yang signifikan di lingkungan tempatnya mengaktualisasikan diri. Dengan kata lain manusia akan selalu berusaha untuk menjadi pemimpin, walaupun keinginan tersebut hanya bersitan hati saja.

Kepemimpinan yang mencakup seluruh aspek kehidupan akan selalu menjadi harapan, dan nafas peradaban. Orang-orang yang telah rela mengorbankan waktu, jiwa, dan keringatnya untuk melayani, dan mengorganisasikan sebuah lembaga belum tentu memenuhi harapan akan hakikat kepemimpinan yang mereka sendiri rasakan. Sungguh tidak bijak jika kita berfikir bahwa pemimpin hanyalah orang yang akan mengatur dan mendidik orang lain untuk bersama-sama terintegrasi dalam pencapaian visi sebuah kelembagaan, tanpa bercermin pada diri sendiri

Konsep kepemimpinan yang sesungguhnya adalah kepemimpinan yang mampu mengelola diri sendiri dalam koridor nilai-nilai yang telah disepakati dan diciptakan oleh masing-masing individu sebagai bagian dari masyarakat. Memimpin orang lain sudah pasti lebih sulit daripada mengelola diri sendiri, tapi bukan tidak mungkin kita mampu memimpin orang lain dengan kepemimpinan diri pribadi yang masih jauh dari ideal.

Kita tentunya telah menetapkan visi, misi, dan target, setelah itu maka ujian terberat berikutnya adalah bagaimana mempertahankan target-target yang telah dipatok agar berjalan sebagaimana mestinya untuk ketercapaian misi, dan visi tersebut. Keteguhan hati dan pengorbanan merupakan satu-satunya cara untuk menumbuhkan kepemimpinan yang sesungguhnya. Integritas merupakan salah satu kunci dalam proses menjadi seorang pemimpin. Bagaimana mungkin seorang pemimpin lalai dari dirinya sendiri dalam memberikan performa terbaik sedangkan dia merupakan sosok yang amat dinanti?

Hal ini merupakan indikator yang sederhana namun menjadi pelik ketika seseorang tidak pernah tersadarkan dan merenungi kepemimpinan yang sesungguhnya. Hendaknya seorang pemimpin senantiasa kembali pada evaluasi diri dan berlapang dada untuk melakukan pengadilan atas dirinya sendiri sebelum mengkoordinasi dan mengadili orang lain.

Semoga sedikit tulisan ini dapat menjadi ajang introspeksi diri saya pribadi dan rekan-rekan yang membacanya…..

November 14, 2008 Posted by | motivasi | Leave a Comment

RAMADHAN : SEMIOTIKA PERUBAHAN ATAUKAH PERUBAHAN SEBUAH SEMIOTIKA…?

Bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, berbagai karunia dan pahala berlimpah pada bulan yang hanya datang sekali dalam satu tahun, tentunya dengan berbagai konsekuensi yang berimplikasi pada pemenuhan kebutuhan dan segala macam bentuk tindakan dan sudah pasti bergantung pada paradigma dan mindset berfikir masing-masing individu. Selama keberjalanan waktu sejak zaman Nabi Muhammad SAW, telah terbentuk paradigma berfikir yang hampir sebagian besar umat muslim menganggap bulan ramadhan sebagai bulan yang penuh kebahagiaan dan kaya akan berkah sehingga dapat membentuk pola pikir dan tindakan yang memang sesuai dasar dari bulan ramadhan.

Puasa merupakan ibadah yang diwajibkan pada bulan ramadhan, salah satu hikmah besar yang terkandung di bulan ramadhan adalah untuk mewujudkan jiwa kepekaan sosial, sabar, tawadlu, dan semakin mendekatkan diri pada Alloh yang maha kuasa, namun apakah hakikat puasa di bulan ramadhan itu sendiri? Merupakan sebuah pertanyaan yang mungkin klise bagi sebagian orang, namun justru disanalah letak esensi dari puasa itu sendiri.

Pada dasarnya puasa di bulan ramadhan adalah sebuah momen untuk melakukan jihad dan perbaikkan-perbaikkan sehingga dapat tercapai sebuah proses transformasi diri dari situasi yang kurang baik menjadi pribadi-pribadi yang kaffah dan dapat melaksanakan fungsi manusia sebagai kalifah di dunia, momen ini diberikan kepada manusia secara kolektif dan dalam bentuk kewajiban agar manusia menyadari akan pentingnya bertransformasi diri secara komunal dan melaksanakan amal yang sifatnya jamai dalam satu waktu sehingga dapat mengukuhkan kedudukan umat muslim diantara umat-umat yang lainnya.

Yang menjadi permasalahan adalah transformasi seperti apakah yang harus ditimbulkan dalam diri umat muslim, dan sudahkah tercapai sinkronisasi antara paradigma berfikir dengan implementasi tindakan dalam proses transformasi, baik secara individu maupun kolektif?

Gejolak-gejolak yang timbul di masyarakat umumnya, dan umat muslim indonesia khususnya telah membawa berbagai macam efek, terutama dalam membentuk paradigma berfikir masyarakat. Setiap manusia harus senantiasa melakukan perubahan, yang intinya adalah perubahan untuk semakin mendekatkan diri kepada Alloh SWT, karena hal itu merupakan sebuah titik awal yang akan membawa dampak bagi seluruh aspek kehidupan agar menjadi lebih baik.

Banyak orang melaksanakan puasa di bulan ramadhan yang tidak lebih hanya menahan lapar dan haus, hanya ritual semata untuk menunaikan kewajiban tanpa mengerti esensi yang terkandung. Secara individu di sela-sela aktifitas kita sering tidak menyadari bahwa secara tidak sengaja mengurangi pahala dari puasa itu sendiri, misalnya dengan menggunjing, mengucapkan kata-kata kotor, berbohong, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan norma-norma islam itu sendiri. Secara kolektif pun kita masih belum bisa menerapkan hakikat puasa yang sebenarnya, ketika ada sebagian orang yang tidak melaksanakan puasa melakukan makan dan minum tanpa menyadari pentingnya sikap saling menghargai, kita masih sering marah dan bahkan mungkin melakukan cacian dan makian kepada orang tersebut yang seharusnya kita dapat dapat berfikir lebih bijak lagi dan tidak hanya menyalahkan salah satu pihak tersebut. Merupakan sebuah realita jika umat islam yang ikut melaksanakan puasa pun belum memenuhi hakikat yang seesungguhnya dari puasa itu sendiri, beberapa waktu sebelumnya bahkan masih terjadi aksi-aksi anarkisme yang seharusnya tiap-tiap umat muslim dapat mengambil tindakan yang lebih bijak dan dewasa dengan tetap berpedoman pada Al`quran dan sunah, dengan tanpa merusak tujuan di balik puasa itu sendiri yang memang menjadi target utama kita, yaitu untuk melakukan perubahan diri. Jika ditilik lebih jauh lagi, secara kolektif pun amalan yang bersifat jama`i ternyata memang belum dapat mengejawantahkan dan mengimplementasikan transformasi yang berlandaskan pada nilai-nilai islam yang universal dan menyeluruh.

Dalam tataran ideal sebuah transformasi harus menyentuh segala aspek kehidupan, baik individu, masyarakat, bangsa dan negara. Berbagai segi yang harus tersentuh oleh esensi dari puasa pada setiap individu adalah segi akal, fisik, dan ruhani, sedangkan dari segi kolektif harus menyentuh tataran ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, sehingga puasa dapat benar-benar menjadi sarana perubahan yang tidak hanya biasa-biasa saja, tapi menjadi perubahan yang luar biasa.

Puasa atau bulan Ramadhan bukanlah sebuah simbol untuk melakukan perubahan, tetapi yang paling penting adalah puasa merupakan sarana untuk melakukan perubahan simbol-simbol yang selama ini diartikan hanya sebagai ritual dan kegiatan sebelum hari raya agar tiap-tiap individu yang menjalankannya dapat merasakan perubahan yang memang menjadi tujuan utama dalam menjalankan puasa itu sendiri, dan setiap perubahan tersebut dapat terimplementasi dalam kehidupan dalam sebuah lingkup yang menyeluruh sehingga tercapainya hakikat puasa yang memang sesuai dengan nilai-nilai islam, dapat menjadi sarana jihad yang sesungguhnya, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta seperti yang diharapkan Rasulullah SAW.

September 27, 2008 Posted by | motivasi | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.